Prio Hotman
A.Geneologi Dinasti Abbasiyah: Garis
Keturunan dan Biografi
Daulah Abbasiyah
merupakan kerajaan Islam berikutnya setelah runtuhnya daulah Banu Ummayah. Nama
daulah Abbasiyah diambil dari nama leluhur Abu al ‘Abbas al Saffah, pendiri
kerajaan ini, yaitu ‘Abbas, paman dari Nabi Muhammad dari jalur yang sama yaitu
Bani Hasyim. Berbeda dengan daulah banu ummayah, daulah ‘abbasiyah dengan
demikian memiliki garis kekeluargaan yang lebih dekat. Faktor inilah yang pada
masa itu digunakan oleh para tokoh pendiri kerajaan Islam ini sebagai
propaganda politik menurunkan kepercayaan publik kepada raja-raja bani
ummayyah.
Seperti telah
disinggung sekilas di atas, dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abu al ‘Abbas
Abdullah Ibn Muhammad Ibn ‘Ali Ibn ‘Abdullah Ibn ‘Abbas Ibn ‘Abdul Muththalib
Ibn Hasyim. Ia dilahirkan pada tahun 108 H (688 M) di Hamimah di dekat kota
Balqa (sekitar Jordan) pada masa pemerintahan Bani Umayyah dari ibu bernama Rithoh
al Haritsah dan ayah bernama Muhammad Ibn ‘Ali. meninggal di kota al Jidari
pada bulan Dzul Hijjah tahun 136 H (716 M)[1].
Ia memerintah dinasti Abbasiyah selama kurang lebih 4 tahun, yakni dari 750-754
M.
Nama “ As
Saffa “ atau “ al-Saffa” keduanya merujuk pada orang yang sama.
Julukan ini pada mulanya bermakna positif, yakni julukan keagamaan yang
bermakna “sang juru selamat” (messianic religious tittle) yang diambil
dari literature hadits mengenai al mahdi. Dari sudut pandang ini, julukan “As
Saffa” atau “al-Saffa” bermakna “yang murah hati dan dermawan” (The
Generous) yang merupakan derivasi dari “yasfa” yang artinya
“melimpahkan anugrah” (to pour out). Namun belakangan, julukan ini
menjadi berkonotasi negatif, yakni “ orang yang suka menumpahkan darah” (The
Blood Seeder)[2].
Dalam sejarah, memang al Saffah dikenal sebagai seorang khalifah yang tidak
segan-segan menggunakan kekerasan untuk mewujudkan kebijakan politiknya[3].
Al Saffa
merupakan pemuka dari suku Banu Hasyim dari Arab. Kaitan langsungnya kepada
keluarga Nabi Muhammad nantinya menjadi dasar klaim bagi Al Saffa untuk
mewujudkan ambisinya menaiki tahta kekhalifahan. Ironisnya, dalam sejarah paman
nabi Abbas sendiri tidak pernah masuk Islam atau jika menerima Islam, itu pun
hanya setengah hati.
Meskipun Abu al
‘Abbas al Saffah merupakan founding father dinasti Abbasiyah, namun
saudaranyalah, yaitu Abu Ja’far, yang menjadi tokoh pembangun (developer
figure) dari kerajaan ini. Menurut sejarawan Philip K. Hitti, seluruh
khalifah dari dinasti Abbasiyah yang berjumlah 35 orang itu berasal dari garis
keturunannya[4].
Nama lengkap dari penerus al Saffah ini adalah Abu al Ja’far Abdullah Ibn ‘Ali
Ibn ‘Abdullah Ibn ‘Abbas. Ia dilahirkan dari seorang wanita barbar (suku dari
Afrika) bernama Salamah pada tahun 95 H (703 M). Seperti juga al Saffah, Abu Ja’far juga
merupakan keturunan dari Abbas, paman termuda dari Nabi Muhammad. Jika
saudaranya Abu al ‘Abbas mendapat julukan “al Saffah”, maka Abu Ja’far dikenal
sebagai “al Manshur” yang berarti “orang yang ditolong”. Ia memerintah selama
kurang lebih 21 tahun, yakni dari 754 hingga 775 M[5].
Karena dinasti Abbasiyah menjadi besar dibawah pemerintahannya, maka para
sejarawan menyebut Abu Ja’far al Manshur sebagai pendiri asli kekhalifahan
Abbasiyah (the real founder of the Abbasid Chaliphate)[6].
Khalifah Abu
Ja’far al Manshur meninggal pada tahun 775 M dalam perjalanannya ke kota Mekkah
untuk menunaikan haji. Ia kemudian dikuburkan pada suatu tempat yang tidak
jelas sepanjang perjalanan tersebut bersama ratusan kuburan lain yang digali
untuk menyembunyikan mayatnya dari keluarga bani Umayah. Ia kemudian digantikan
oleh anaknya al Mahdi. Sama seperti saudaranya, Abu al ‘Abbas al Saffah, al
Manshur juga memiliki karakter yang keras dan licik. Konon, bahkan ia tidak segan-segan
membunuh sekutunya sendiri yang telah membawa keluarganya pada kekuasaan dengan
asumsi agar tidak menjadi sandungan di kemudian hari. Oleh karena itulah,
ketika ia meninggal, jasadnya disembunyikan dari orang-orang yang dendam kepada
dirinya[7].
Khalifah al
Mahdi memerintah selama 10 tahun, yakni hingga tahun 785, sebelum kemudian
dilanjutkan oleh pemerintahan singkat anak pertamanya, al Hadi, yang
berlangsung tidak lebih dari satu tahun. Anak al Mahdi lainnya, yakni Harun al
Rasyid kemudian menjadi khalifah yang terkenal sepanjang sejarah Daulah
Abbasiah.
Nama lengkap
khalifah Harun al Rasyid adalah Abu Ja’far Ibn Mahdi Muhammad Ibn Mansur
Abdullah Ibn Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Abdullah Ibn ‘Abbas. Ia merupakan adik dari
khalifah al Hadi dari ibu yang sama, yakni seorang budak barbar dari Yaman
bernama al Khayzuran. Ia dilahirkan di kota Ray 17 Maret 763 M[8].
Julukan “al Rasyid” yang bermakna “yang
diberi petunjuk” (eng: Aaron the Upright), “yang adil” (Aaron the
just), “yang mendapat bimbimbangan” (the Rightly Guided) disematkan
kepadanya karena ia dikenal dengan kecerdasan, kesalihan dan kezuhudannya.
Menurut informasi al Suyuthy, konon, khalifah Harun al Rasyid melanggengkan
shalat seratus raka’at dalam sehari. Ia tidak pernah meninggalkannya kecuali ada
alasan serius. Ia juga dikenal sangat dermawan karena rajin bersedekah dari
hartanya sendiri (bukan harta kerajaan) sehari sebanyak seribu dirham. Ia juga
dikenal sebagai orang yang memiliki ketertarikan kepada ilmu dan mewajibkan
keluarganya untuk mendalami ilmu. Atas dasar kegemarannya pada ilmu inilah ia
membangun perpustakaan besar yang amat terkenal dalam sejarah, baitul hikmah. Di
masa pemerintahan Harun al Rasyid inilah kekhalifahan Abbasiyah menjadi pusat
peradaban internasional.
Pada tahun 808
M, khalifah Harun al Rasyid pergi ke Transoxania untuk menenangkan pemborntakan
Ibn Layts. Ia kemudian menderita sakit dan kemudian meninggal dunia. Ia
dimakamkan di dekat istana Hamid Ibn Qahtabi, gubernur Khurasan. Lokasi ini
kemudia dikenal dengan nama “masyhad” yang berarti tempat orang yang mati
syahid.
Khalifah-khalifah
berikutnya keturunan Harun al Rasyid ternyata tidak sebaik ayah dan leluhurnya.
Mereka kebanyakan lebih suka berhura-hura dari pada membangun dinasti. Tiga
anak Harun al Rasyid mungkin masih bisa dihitung sebagai khalifah yang tertarik
pada ilmu pengetahuan. Khalifah al Amin, memerintah dari 809 -813 M, lahir pada
tahun 787 M dari istri khalifah Harun Zubaida. Ia meninggal karena dibunuh pada
tahun 813 M. Khalifah al Amin digantikan oleh adiknya, al Ma’mun. Khalifah al
Ma’mun dilahirkan dari ibu yang berbeda dengan khalifah al Amin, yaitu Marajil,
pada 15 september 786 M. Ia memerintah cukup lama, yakni kurang lebih 23 tahun
hingga ia meninggal di usia 46 tahun pada 9 Agustus 833 M. Ia meninggal di
Tarsus akibat minuman sari buah kurma yang diminum bersama rombongannya. Ia
kemudian digantikan oleh saudara tirinya, al Mu’tashim. Khalifah al Mu’tashim
dijuluki dengan al-Mu’tashim billah (orang yang berpegang teguh kepada Allah)
karena ia dikenal sebagai orang yang murah hati (an example of magnanimity).
Ia lahir pada 794 M dari seorang ibu budak beretnis Turki. Ia memerintah selama
kurang lebih 9 tahun, yakni dari tahun 833 M hingga 842 M hingga pada akhirnya
ia meninggal pada 5 Januari 842. Menurut al Thabari, khalifah Mu’tashim
meninggal akibat sakit yang ia derita akibat dari kelalaian tabib barunya.
Tabib lamanya meninggal lebih dulu dan tabib barunya tidak mengikuti perawatan
yang sama dengan tabib yang lama. Ia kemudian diganikan oleh anaknya, khalifah
al Watsiq.
Khalifah al Watsiq lahir pada tahun 816 M dari
seorang ibu gundik beretnis Romawi bernama Qaratis. Ia memerintah sangat
singkat yakni tidak lebih dari lima tahun (842-847). Ia meninggal pada 10
Agustus 847 M akibat flu berat yang dideritanya. Selama hidupnya, al Watsiq
dikenal sebagai penyair yang hebat dan pecinta sejati. Ia memang tidak seagamis
para pendahulunya dan dikenal senang berhura-hura. Adapun yang mengejutkan,
khalifah yang satu ini memiliki karakter yang berbeda dengan para pendahulunya.
Penelitian kontroversial sejarawan Mesir Faraj Fouda menyebut bahwa khalifah
yang satu ini memiliki tabi’at homoseksual, dan senang mengencani banyak
laki-laki[9].
Khalifah al
Watshiq digantikan oleh saudara tirinya, khalifah al Mutawakkil. Khalifah al
Mutawakkil dilahirkan dari ibu seorang Persia bernama Shuja’. Menurut Harun
Nasution[10],
al Mutawakkil merupakan khalifah besar terakhir dari dinasti Abbasiyah.
Khalifah-khalifah berikutnya kurang memiliki pengaruh dan bahkan sudah sangat
lemah. Ia dilahirkan pada bulan Maret 822 M dan meninggal pada 11 Desember 861
M. Ia memerintah dinasti Abbasiah dari kota Samarra yang didirikan oleh saudara
tirinya khalifah al Watsiq guna menghindari pengaruh dari tentara turki. Ia
memerintah selama 14 tahun hingga akhir hayatnya. Berbeda dengan
khalifah-khalifah sebelumnya yang lebih dekat kepada ajaran Mu’tazilah,
khalifah al Mutawakkil lebih memilih aliran As’ariyah dan oleh karenanya ia
menghentikan tradisi kejam “mihnah” yang dilakukan oleh para pendahulunya;
yakni eksekusi untuk mereka yang memiliki mazhab yang berbeda dengan mazhab
yang dianut oleh pemerintah dan kebanyakan orang[11].
Khalifah Abbasiyah yang paling terakhir adalah
al Musta’sim yang memerintah selama enam belas tahun, yakni dari 1242-1258 M.
Ia lahir pada tahun 1213 M dan meninggal akibat kelaparan setelah tentara
Hulagu Khan, pasukan Mongol, menyerang dan meluluhlantahkan Baghdad. Khalifah
dipenjarakan di gudang bersama hartanya dan tidak diberi makan dan minum hingga
akhirnya ia meninggal.
B. Proses Suksesi Kekuasaan Dari Bani
Umayyah Ke Bani Abbasiyah: Siasat Politik, Tragedi, dan Korupsi Penafsiran
Agama
Sebagaiamana
laiknya suksesi politik di belahan dunia manapun dan kapanpun, perpindahan
kekuasaan dari dinasti Ummayah ke Bani Abbasiyah juga tidak terlepas dari
intrik-intrik dan siasat politik. Dalam prosesnya ia bukan hanya menggunakan
kecerdasan dan intrik saja, tapi juga melibatkan doktrin agama dan, bahkan,
pertumpahan darah sesama muslim. Pertikaian untuk menuju suksesi politik ini
pada akhirnya menimbulkan tragedi-tragedi sejarah dan sedikit banyak menyisakan
pengaruh dalam perkembangan pemikiran keagamaan hingga yang kita terima dan
praktikan hingga saat ini.
Dinasti Ummayah
yang sudah bobrok, kehilangan kepercayaan di mata umat muslim, dan saling
serang dari dalam satu sama lain, menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuh dan
kelompok pemberontak yang memang sedari lama menghendaki dinasti ini hancur. Di
antara kelompok penentang itu adalah Syi’ah yang sedari awal memang sudah
mengecap dinasti ini sebagai “perebut kekuasan” ketika Mu’awiyah dan Amr Ibn
‘Ash berbuat curang ketika tahkim dilakukan. Kelompok yang satu ini memang
berjanji untuk tidak memaafkan kesalahan Bani Umayyah yang telah berbuat zhalim
kepada Ali dan Husein. Penentangan kaum Syiah yang semakin aktif dilirik oleh
keluarga Abbas yang juga bergerak aktif.
Keluarga Abbas
dengan kecerdikannya mulai mencari dukungan dan bergabung dengan kaum Syiah.
Karena dianggap sama-sama keluarga Nabi Muhammad (ahlul bait), kaum Syiah setuju
bergabung dan keduanya dengan memanfaatkan kekecawaan publik dan menunjukkan
diri sebagai pahlawan Islam sejati tampil memimpin gerakan anti Ummayah. Mereka
mendirikan markas propaganda di sebuah desa kecil namun strategis dekat laut mati
bernamah al Mumaymah. Singkat kata, proganda berhasil disebarkan dan dukungan
berhasil dikumpulkan. Sejengkal demi sejengkal, pasukan Abbasiyah dan sekutunya
berhasil merebut kekuasaan Bani Ummayah hingga Ibu kota Damaskus jatuh pada 26
April 750[12].
Setelah berhasil
mengambil alih kekuasaan dari Banu Ummayah, dengan ditandai oleh pembaiatan
masal kepada Abu al ‘Abbas di Masjid pada tanggal 30 Oktober 749 M, Keluarga
Abbas melakukan tindakan-tindakan prevensi yang dimaksudkan untuk menetralisir
kekuatan sisa dari Banu Umayyah. Tindakan pertama yang dilakukan adalah dengan
mengejar khalifah Umayyah terakhir yang kabur dan menghabisinya dalam pelarian.
Kepalanya dipenggal dan disatukan dengan simbol khalifah untuk diserahkan
kepada Abu al ‘Abbas. Keluarga dinasti Umayyah yang tersisa dan orang-orang
yang punya hubungan dengan keluarga istana dihabisi semuanya. Sejarawan Philip.
K. Hitti dengan mengutip banyak sumber menggambarkan bagaimana proses eksekusi
ini berlangsung.
“….pada
25 Juni 750, ia mengundang 80 orang di antara mereka ke sebuah undangan makan
di Abu Futhrus, sebuah kuil kuno di sungai ‘Awja’ dekat Jaffa, kemudian
menghabisi mereka ketika jamuan sedang berlangsung. Setelah menutupi
jasad-jasad yang sudah meninggal dan sekarat, ia dan para komandannya
melanjutkan jamuan makan itu, sambil diiringi rintihan manusia yang sedang
meregang nyawa…..”
Sisa-sisa
keluarga lainnya yang melarikan diri juga dikejar. Khalifah Abu al ‘Abbas
menyebar mata-mata dan agen untuk mengetahui keberadaan keluarga dan kerabat
Bani Umayyah yang tersisa dengan maksud menghabisinya agar kelak mereka tidak
bisa lagi melakukan balas dendam[13].
Karena kekejaman inilah, maka khalifah Abu al ‘Abbas dijuluki ‘Al Saffah’ si
penumpah darah. Orang-orang Syiah yang tadinya membantunya menaiki tahta singgasana
juga dibantai habis hingga tidak kuasa membrontak.
Dalam mencari
dukungan, keluarga Abbas bukan hanya mengandalkan orang Arab saja, tapi juga
orang mawali, yakni orang-orang Persia non Arab yang asalnya budak kemudian
dibebaskan dan telah masuk Islam. Berbeda dengan dinasti Umayyah, dinasti
Abbasiah mengambil kebijakan yang kontras. Jika seluruh pegawai dan pejabat
dinasti Umayyah berasal dari orang Arab, maka dinasti Abbasiyah lebih terkesan
internasional. Orang Khurasan, dan kemudian orang Turki, dijadikan pengawal
istana. Para pejabaat diambil dari beragam suku bangsa dan negara. Singkat
kata, aristokrasi Arab murni telah tergantikan dengan hirarki pejabat yang
diambil dari beragam bangsa. Karena unsur internasional ini, maka dinasti Abbasiyah menyebut diri mereka
sebagai daulah; ‘daulah ‘Abbasiyah’.
Selain
menggunakan kekuatan fisik dan kekerasan, taktik dan pencarian dukungan dari
luar, proses berdirinya dinasti Abbasiyah juga disokong oleh pemanfaatan
doktrin agama yang ditujukan untuk menggiring opini dan ketaatan publik untuk
tujuan politik semata. Menurut sejarawan Philip. K. Hitti, para khalifah
‘Abbasiyah sebagian besarnya – untuk tidak menyebut seluruhnya – bukanlah tipe orang-orang yang taat beragama,
tidak jauh berbeda dengan para khalifah Ummayah yang sekuler. Sebaliknya,
agaknya mereka tahu betul bagaimana memanfaatkan religiusitas umat untuk
mendulang dukungan dan kepatuhan.
Pertama-tama,
mereka bangkit menentang tatanan yang ada dan memoles image mereka sebagai pembela
agama yang menawarkan gagasan teokrasi, dan janji untuk kembali kepada tatanan
ortodoksi – propaganda kembali kepada al Qur’an dan Sunnah Nabi. Dengan
memanfaatkan para ulama dan pakar hukum yang bisa diajak bekerjasama, mereka
sedari awal telah menyebar doktrin bahwa kekuasaan selamanya harus dipegang
oleh orang Abbasiyah hingga akhirnya diserahkan kepada ‘Isa sang juru selamat
di hari akhir nanti. Setelah doktrin ini berhasil disosialisasikan dan diterima
oleh kebanyakan masyarakat awam, kemudian dibangun doktrin teologi baru bahwa
jika kekhalifahan ini runtuh maka seluruh dunia akan kacau dan kiamat akan
dating.
Untuk
melegitimasi kekuasaan mereka, melalui bantuan para ulama fikih, para khalifah
Abbasiyah membangun tafsiran ayat-ayat waris setelah disesuaikan dengan
kepentingan mereka dari satu sisi, dan pada kehendak dan pilihan Allah dari
sisi yang lain. Jika Dinasti Ummayyah membuat konsep qada’ dan qadar sebagai
doktrin legitimasi kekuasaannya, maka dinasti Abbasiyah membuka pintu
jabariyyah yang memandang bahwa adanya al mahkum (rakyat yang
dikuasai/diperintah) dan al hakim (raja yang berkuasa/memerintah) merupakan
kepastian karena udah ditakdirkan oleh Allah sejak jaman azali. Doktrin ini
diperkuat dengan propaganda lainnya yakni bahwa khalifah merupakan “zhillullah
fi al arld” (bayang-bayang Allah di muka bumi) yang tidak boleh ditentang dan
dilawan.
Para ulama fikih
membantu para penguasa dan turut menyebarkan faham bahwa para khalifah
‘Abbasiyah berbuat, memberi atau menghalangi sesuatu atas kehendak Allah dengan
memandang bahwa dirinya adalah pengganti nabi an tergolong ahl al bayt
(keluarga nabi) yang Allah berkehendak menghilangkan kotoran dari mereka dan
mensucikan mereka, sebagaimana tertulis dalam al Qur’an. Bukan hanya kepada
Bani Ummayyah, kepada rival mereka dari Banu Thalib (kaum syiah) yang tadinya
merupakan sekutunya, Abbasiyah juga menggunakan dalil-dalil agama untuk
mendapatkan kekuatan politik. Mereka dengan meminta bantuan dari para ahli
tafsir dan ilmu fikih menantang orang-orang Syiah dengan mengatakan bahwa dalam
kitab suci al Qur’an, Allah menjadikan paman lebih baik dari pada anak
perempuan, karena paman bisa menjadi ‘Ashabah dan wali dalam urusan keluarga[14].
Ringkasnya, daulah ‘Abbasiyah yang monumental
itu tidak berdiri secara sederhana. Sama seperti dinasti-dinasti lain di luar
Islam pada masanya, dinasti ‘Abbasiyah juga dibangun di atas tumpahan darah
manusia, kelicikan, dan mengalihfungsikan agama sebagai alat untuk mendulang
dukungan dan kepatuhan masyarakat awam. Selain itu, sebagaimana normalnya
banyak sistem kekuasaan yang telah berdiri kuat dan stabil, daulah ‘Abbasiyah
juga tidak terhindar dari gaya hidup permissive dan hedonis. Namun demikian,
tidak berarti semua kekuarangan tersebut menutup mata kita dari kelebihan dan
prestasi yang berhasil di cetak oleh para pemimpin dinasti tersebut seperti
yang akan kita bicarakan sebentar lagi.
C. Prestasi dan
Keunggulan Daulah ‘Abbasiyah: Antara Kerja Keras, Kemewahan dan Hedonisme
Rekaman sejarah menjadi saksi bagaimana masa
keemasan Islam yang sering dielu-elukan orang itu merupakan hasil kerja keras
masyarakat yang hidup di bawah kekuasan para khalifah ‘Abbasiyah. Harun
Nasution[15]
menyebut Baghdad, ibu kota pemerintahan dinasti tersebut, sebagai pusat
peradaban dunia pada masanya. Mungkin tidak terlalu berlebihan rasanya jika
kita menyetarakan Baghdad dengan Hollywood, Paris, atau London pada masa
sekarang[16].
Kota Baghdad pada masa itu bukanlah seperti kota Madinah atau Mekkah di Jazirah
Arab pada masa Nabi Muhammad sebagai kota yang dihuni oleh kumpulan orang-orang
beriman. Sama seperti kota-kota tersebut pada masa sekarang, potret kota
Baghdad pada masa itu adalah kota maju yang dihuni oleh mayarakat yang suka
bekerja keras dan berkreasi di satu sisi, namun sebagai kompensasinya mereka
condong kepada hidup yang sekuler, mewah, dan bahkan hedonis. Begitu pula
gambaran kota-kota besar di wilayah kekuasaan daulah Abbasiyah pada masa itu.
Jadi, tidak benar anggapan orang yang menyangka bahwa masa keemasan Islam
diperoleh sebagai anugerah dari Allah kepada orang-orang yang bertakwa dan
patuh pada ajaran agama.
Pertama,
dari segi pembangunan, Baghdad didirikan oleh khalifah kedua Ja’far al Manshur[17].
Ia melihat Baghdad sebagai lokasi yang strategis untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas
negara seperti militer, ekonomi dan cuacanya. Namun belakangan, kota ini
berkembang pesat dan menjadi pusat peradaban dunia. Khalifah Ja’far menyebut
kota ini sebagai “Madinat al Salam” (the city of peace) yang
merujuk pada gambaran surga pada QS VI: 127, dan QS X: 26[18].
Di dalamnya ditemukan bangunan-bangunan
megah dan jalan-jalan lebar untuk transportasi. Di setiap sudut kota dibangun
tempat perbelanjaan dan pemandian umum (hamam) dengan setiap kamar mandi
terdapat saluaran air dingin dan air panas. Fenomena kemegahan ini juga dapat
disaksikan dikota-kota besar selain Baghdad pada masa itu seperti Kufah dan
Basrah, Khurasan, Ray dan Thus. Untuk menyokong kemajuan ilmiah, khalifah
membangun lembaga-lembaga penelitian dan perpustakaan-perpustakaan besar yang
diisi oleh ribuan buku yang diterjemahkan dari berbagai macam bahasa[19].
Kedua,
dari gaya hidup, melimpahnya kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi mendorong
lahirnya gaya hidup baru dikalangan mayarakat Abbasiyah, dari model berbusana,
kendaraan, makan minum hingga pelampiasan hasrat seksual. Para wanita
bermewah-mewah dengan mengenakan ikat kepala dari permata dan kaum pria
memenuhi lemari pakaian dengan bahan dari sutera[20].
Barang-barang rumah tangga dipenuhi dengan gerabah yang disepuh dengan emas dan
perak. Sejarawan Philip.K.Hitti[21]
dengan mengutip berbagai sumber berbahasa Arab melukiskan bagaimana pesta dan
perkumpulan-perkumpulan yang menyajikan arak lazim ditemukan saat itu. Mungkin
tidak berlebihan jika kita membandingkan dengan apa yang kita kenal dengan
“gaya hidup Barat” saat ini, ternyata ia sudah lebih dulu dipraktikan oleh
orang-orang Islam pada masa daulah Abbasiah. Sama seperti halnya kehidupan di
Barat pada masa sekarang, ajaran agama tetaplah dihormati, namun keinginan
untuk menikmati kehidupan memang tidak bisa dibendung.
Melimpahnya
budak akibat kemenangan perang dan perluasan wilayah kekuasaan memicu gaya
hidup seksual yang juga bermewah-mewah. Fenomena hadiah-menghadiahi budak
menjadi tradisi yang dianggap wajar pada masa itu. Adapun yang mengejutkan, di
samping memiliki empat istri, para pejabat dan orang terpandang pada masa
daulah ‘Abbasiyah memiliki ratusan bahkan ribuan selir perempuan yang disebut “jawari”.
Kala itu juga dibangun lembaga “harem”, yaitu kaputren yang dihuni oleh budak
laki-laki muda berkulit putih tampan yang dikebiri. Mereka disebut “ghilman”
yang berarti “pria tak berjanggut”. Tugas mereka adalah memberi kesenangan
seksual pada tuan-tuan mereka. Konon, para penyair terkenal seperti Abu Nuwas
dengan tidak malu-malu mengungkapkan syair-syair cinta yang digubah atas
suruhan para tuan tersebut dan ditujukan kepada “sang kekasih” para ghilmannya[22].
Ketiga, dari segi kemajuan ekonomi dan
intelektual, masyarakat daulah ‘Abbasiyah memang dikenal sebagai masyarakat
professional, kreatif dan pekerja keras. Sama seperti masyarakat di
negara-negara maju modern pada saat ini, konon, mereka tidak mau berhenti
beristirahat jika satu pekerjaan yang ada ditangan mereka belum terselesaikan.
Mereka baru mau beristirahan ketika di tengah-tengah peralihan dari selesai
satu pekerjaan dan beralih kepekerjaan berikutnya. Mungkin kerja keras dan
ketekunan inilah yang membawa mereka untuk menuntut kesenangan hidup yang lebih
sebagai kompensasi kerja keras yang telah mereka lakukan[23].
Ekspor dan impor
mengalir deras bak air sungai pegunungan di musim hujan. Kerjasama perdagangan
dan industri dijalin dengan berbagai negara di timur seperti India dan timur
jauh (Cina, asia pasifik) dan Barat (Romawi). Kemajuan ekonomi juga ditunjang
oleh suksesnya perkembangan dalam bidang agraris. Para arsitek yang kreatif di
masa itu berhasil merancang suatu sistem pengairan yang menyebabkan panen
melimpah ruah. Di samping itu, dalam bidang pendidikan dan intelektual, lahir
banyak para pemikir, ahli, dan ilmuwan yang kemudian menjadi ikon pengetahuan
sepanjang masa, bukan hanya di dunia Islam, tapi juga di dunia Barat.
Para khalifah
memanfaatkan banyak ahli, dan merekrut bukan hanya orang Islam, tapi juga
orang-orang non muslim untuk menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa
Arab. Dalam bidang kedokteran, para khalifah memberi kemudahan rakyatnya untuk
membangun apotek, sekolah-sekolah farmasi, dan menyokong buku-buku tentang
pengobatan, dan pendirian laboratorium. Keilmuan dalam bidang filsafat, teologi
dan hukum Islam juga berkembang pesat pada masa ini. Hanya saja, tidak seperti
pengetahuan eksak, perkembangan jenis keilmuan yang terakhir disebut ini juga
menggiring kepada lahirnya sekte-sekte yang berujung pada disintegrasi dan
belakangan menjadi salah satu faktor runtuhnya daulah ‘Abbasiyah yang luar
biasa itu[24].
D. Kesimpulan
Seperti telah
diuraikan di atas, dapat dilihat betapa kejayaan peradaban Islam pada puncaknya
itu tidaklah sesuci dan sesalih yang disangka banyak orang. Mengutip Faraj Fouda[25],
sejarah pada hakikatnya adalah das sein (yang senyatanya) dari das solen (yang
diidealkan). Kejayaan sebuah peradaban tidaklah cukup dengan kesalihan dalam
arti sempit saja, lebih dari itu, kerja keras, inovasi dan kreatifitas menjadi
suatu yang mutlak diadakan. Apa yang terjadi di Barat sekarang ini, ada
kemiripan dengan yang proses berdirinya daulah Abbasiah. Unsur-unsur yang
terdapat di dalam peradaban Barat, secara umum dapat kita temukan pula dalam
peradaban masa daulah Abbasiah seperti masyarakat professional, kreatifitas,
kebebasan berekspresi dan berkeyakinan. Menurut pakar peradaban Marshal Hodgson[26],
unsur-unsur tersebutlah yang menentukan suatu peradaban maju atau tidaknya.
Meskipun harus
diakui bahwa eksekusi terhadap keyakinan yang berbeda (mihnah) pernah
diberlakukan dalam sejarah Islam, namun ia tidak lebih dari siasat politik
untuk mematahkan lawan-lawan dan menjaga integrasi daulah. Sebagai buktinya,
ribuan keyakinan dan sekte-sekte dari yang moderat hingga yang ekstrim tetap
bisa hidup di masa daulah ‘Abbasiyah[27].
Ini ada kemiripan dengan apa yang kita temukan pada masyarakat Barat. Di dunia
Barat sekarang ini kita bisa menyaksikan betapa sekte-sekte dan aliran agama
hidup dengan aman dan berkembang di dalamnya; hal yang tidak mungkin ditemukan
pada masyarakat muslim saat ini. Anomali-anomali yang ditemukan pada masa
daulah Abbasiyah, di mana peradaban Islam mencapai kejayaannya, merupakan suatu
harga yang harus dibayar dari prestasi dan keberhasilan yang diperoleh.
Wallahu A’lam Bissawab
[1] Abu al Fadl Abd al Rahman Ibn Abu Bakar al Suyuthy, Tarikh al
Khulafa, (Mauqi al Warraq), h. 101. Sumber lain mengatakan ia lahir pada
tahun 721 M dan meninggal pada 9 Juni 754 M.
[2] Robin Doak, The Great Empire of The Past: The Empire of Islamic
World, (New York: Fact on File, 2005), h. 39
[3] Pada pidato pengukuhannya, Abu al Abbas menyebut nama “al Saffah”
untuk menjuluki dirinya. Katanya “…..wa qod zidtukum fi a’thoyathikum miata
dirhamin fasta’iddu fa ana al saffah…”. Lihat Ibn Jarir al Thabari, Tarikh
al Thabari, (Mauqi’ al Ya’sub), Juz 6, h. 82.
[4] Philip K. HItti, History of The Arabs, penerjemah Cecep Lukman Yasin, (Jakarta:
Serambi, 2010), h. 360.
[5] Lihat al Suyuthi, op.cit, h. 106.
[6] Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culure: The Graeco-Arabic
Translation Movement in Baghdad and early Abbasaid Society, (UK: Routlege,
2012), h. 29
[7] Harun Nasution, Islam di Tinjau Dari Berbagai Aspeknya,
(Jakarta: UI Press, 2005), Cet. Kedua, h. 65.
[8] Juan E. Campo, Encyclopedia of Islam, (New York: Fact on
File, 2009), h. 293. Para sejarawan berbeda pendapat tentang tanggal pasti
dilahirkannya khalifah al Rasyid. Dari berbagai sumber diketahui bahwa ia lahir
antara tahun 763 hingga 766 M. Lihat al Suyuthy, Op.cit, h. 116.
[9] Baca Faraj Fouda, al Haqiqah al Ghaibah, (Kairo: Dar al
Fikr, 1988), Cet. Ketiga, h. 127.
[10] Baca Harun Nasution, Op.Cit, h. 64
[11] Mengenai Mihnah, silahkan baca Harun Nasution, Teologi Islam:
Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986), Cet.
Kelima, h. 63
[12] Hammady Sahily, Suqutu al
Daulah al Umawiyyah wa Qiyamu al Daulah al ‘Abbasiyah, (Beirut: Dar al
Ghorb al Islamy 1995), Cet. Pertama, h. 149
[13] Robin Doak, Great Empire of The Past: Empire of The Islamic
World, (New York: Facts on File, 2005), h. 40
[14] Maksudnya warisan dinasti Banu Abbasiyah yang diperoleh dari
leluhur mereka Abbas, yakni paman nabi, lebih legitimate dibandingkan dari
warisan yang seharusnya didapat dari kaum Syiah keturunan ‘Ali dan Fatimah.
Jadi, menurut penafsiran fikih versi Banu Abbas, meskipun orang Syi’ah mendapat
legitimasi dari anak nabi, tapi Fatimah perempuan. Dan sebagai perempuan,
Fatimah tidak lebih legitimate daripada ‘Abbas paman nabi. Silahkan baca,
Muhammad Shahrour, Nahw al Ushul al Jadidah li al Fiqh al Islamy: Fiqh al
Mar’ah, (Damaskus: al Ahaly, 2000), Cet. Kedelapan, h. 172
[15] Lihat Harun Nasution, Islam ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,
Op.Cit, h. 64
[16] Baca juga, Sayyed Hosein Nasr, Islam Religion History and
Civilization, (New York: Harper Collin, 2003), h. 121
[17] Sayyed Hosein Nasr, Op.Cit, p. 120
[18] Lihat A.A Duri, Baghdad, dalam C. Edmund Bosworth,ed., Historic
Cities of the Islamic World,
(Leiden: Brill Publishing, 2007), h. 45
[19] Nabilah Hasan Muhammad, Tarikh al Daulah al ‘Abbasiyah,
(Alexandria: Dar al Ma’rifah al Jama’iyyah, 1993), h. 224
[20] Ibid
[21] Philip K. Hitti, Op.Cit, h. 421
[22] Baca Philip K. Hitti, Op.Cit,
h. 426. Faraj Fouda, Op.Cit, h. 109
[23] Nabilah Hasan Muhammad, Op.Cit, h. 293
[24] Robin Doak, Op.Cit, h. 42
[25] Faraj Fouda, Op.Cit, h. 13
[26] Lihat Marshal G.S.Hodgson, The Venture of Islam: Classical Age,
(Chicago: The University of Chicago Press, 1974), h. 357
[27] Catatan mengenai sejarah sekte-sekte dan aliran kepercayaan yang
eksis pada masa daulah Abbasiyah bisa dirujuk di buku al Milal wa al Nihal.
Silahkan rujuk Muhammad Ibn Abd al Karim Ibn Ahmad al Syahrastany, al Milal
wa al Nihal, (Mauqi’ al Warraq, al Maktabah al Syamilah)